Prepegan dan Kebiasaan Lebaran: Cerita dari Pasar Magelang

HOTSPOT

Najwa Salsabila Saharani

3/19/20262 min read

Suasana parkiran Pasar Rejowinangun Magelang jelang Hari Raya Idul Fitri (10/03/2026).

(Raihan Darmawan/Ilmu Komunikasi Untidar)

MAGELANG, Youthverse – Hari Raya Idul Fitri merupakan hari besar yang istimewa bagi umat Islam. Dalam menyambut hari raya ini, ada berbagai aktivitas dan kebiasaan rutin di masyarakat khususnya di Magelang dan sekitarnya salah satunya yaitu tradisi prepegan.

Tradisi prepegan atau momen belanja menjelang Lebaran, menjadi rutinitas tahunan yang tak hanya memberi dampak besar pada sektor ekonomi masyarakat dikarenakan aktivitas di pasar tradisional mengalami lonjakan yang signifikan, akan tetapi juga menjadi sebuah cermin kebiasaan masyarakat dalam menyambut hari raya.

Sejak dimulainya bulan Ramadhan, pasar tradisional mulai padat pengunjung, dari berburu berbagai kebutuhan Lebaran, mulai dari pakaian, bahan makanan, hingga kebutuhan rumah tangga. Meningkatnya jumlah pengunjung ini juga turut dirasakan oleh para pedagang.

Potret Tri penjual pakaian di Pasar Rejowiangun (10/03/2026).

(Raihan Darmawan/Ilmu Komunikasi Untidar)

Salah satu penjual pakaian di pasar, Tri, mengakui Ramadhan sebagai periode yang paling dinantikannya setiap tahun.

“Dari seminggu sebelum ramadhan itu ramai sekali, jadi penjualan meningkat. Tapi justru dalam tiga dua harian sebelum lebaran malah agak menurun,” ujarnya.

Ia memberikan penilaian bahwa dari tahun ke tahun suasana lebaran tidak mengalami perubahan yang signifikan. Keramaian pasar ini menjadi hal yang memberi rasa kebahagiaan tersendiri.

“Prepegan itu spesial ya, karena orang-orang pasti sudah dapat THR, sudah libur, dan banyak yang sudah pulang kampung,” tambahnya.

Kemudian di sisi tren, diungkap juga oleh Tri apabila pilihan pakaian Lebaran terus berkembang.

“Sekarang yang banyak dicari itu model binor (bini orang) sama gamis motif sultan,” katanya.

Hal yang demikian itu turut disampaikan oleh penjual sembako, Nurul, yang merasakan perbedaan signifikan ketika hari biasa dengan masa prepegan.

“Kalau prepegan itu pengunjung bisa dua bahkan sampai tiga kali lipat dan hampir semua yang datang juga pasti membeli. Jadi dagangan pasti cepat habisnya,” tegasnya.

Menurut pendapatnya, meningkatnya jumlah pengunjung berdampak langsung pada penjualan dan pendapatan pedagang. Kondisi ini juga dinilai relatif konsisten di setiap tahunnya.

“Dari tahun ke tahun tidak ada perbedaan jauh, selalu ramai seperti ini,” ulasnya.

Nurul di sisi lain juga memberikan penekanan bahwa Lebaran bukan tentang aktivitas ekonomi, namun juga tentang kebersamaan.

“Kebiasaan pas Lebaran tuh kumpul keluarga, silaturahmi, bahagia bersama,” katanya. Mudik ke kampung halaman di Bantul juga diakui menjadi momen yang paling ia tunggu.

Sementara itu, seorang reseller asal Pekalongan, Nafara yang berjualan di wilayah Magelang, Yogyakarta, Temanggung, dan sekitarnya, turut membagi pengalamannya terkait kebiasaan Lebaran di daerah asalnya.

“Biasanya keliling kampung berkelompok bareng-bareng untuk silaturahmi,” ungkapnya.

Disebutkan juga olehnya ada tradisi khas yang menjadi momen yang paling dinantikan.

“Yang paling ditunggu itu kalo di daerah saya ada pesta ketupat, sama kumpul dan makan bareng keluarga,” tambahnya.

Fenomena prepegan menggambarkan bahwa pasar tradisional tidak cuma menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai cerita dan kebiasaan masyarakat. Tradisi yang demikian ini terus bertahan di masyarakat sebagai cara dalam mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Idul Fitri.