Menyusuri Papringan, Menemukan Kembali Rasa yang Hampir Hilang
HOTSPOT
Nailah Sekar Abhinaya W
5/24/20262 min read


Salah satu penjual jajanan tradisional di Pasar Papringan (17/05/2026)
(Foto: Nailah Sekar Abhinaya W)
TEMANGGUNG, Youthverse - Pagi belum terlalu cerah ketika suara langkah, tawa, dan panggilan penjual hadir di antara rapatnya kebun bambu yang menjulang tinggi. Sejak pukul 06.00 pagi, Pasar Papringan di Ngadiprono sudah hidup, jauh dari hiruk-pikuk kota. Dari kejauhan, aroma jajanan tradisional diiringi tenangnya alunan karawitan mulai menyapa lebih dulu, sebelum mata benar-benar menangkap keramaian Pasar Papringan.
Sesuai pasaran Jawa, pagi itu adalah Minggu Wage, salah satu dari dua hari selama siklus 35 hari yang menjadi penanda dibukanya pasar ini, selain Minggu Pon. Barangkali itulah yang menjadi alasan setiap kemunculannya selalu seperti perayaan kecil yang ditunggu-tunggu.
Pagi itu, suasana sudah ramai bahkan sebelum pengunjung benar-benar masuk ke area pasar. Antrean kendaraan mengular di akses masuk desa, dipenuhi oleh kendaraan pengunjung yang datang dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta, hingga Magelang. Mereka membawa rasa ingin tahu yang sama, tentang sebuah pasar yang tak menggunakan uang sebagai alat tukar.
Yang membuat pasar ini berbeda bukan hanya suasananya, tetapi juga sistem yang digunakan. Tidak ada uang kertas yang berpindah tangan. Sebagai gantinya, pengunjung menukarkan uang dengan kepingan bambu (pring) bernilai Rp2.500 setiap kepingnya.
Di sepanjang jalur pasar, berbagai makanan tradisional berjejer rapi di atas meja bambu. Ketan lopis, aneka jenang, jamu tradisional, hingga es dawet segar menjadi pilihan yang langsung menarik perhatian pengunjung. Tak jauh dari situ, aroma makanan berat seperti nasi megono, nasi jagung dengan aneka lauk, serta kupat tahu menguar, menghadirkan pilihan yang lebih mengenyangkan bagi mereka yang datang sejak pagi.


Pedagang menyiapkan segelas es cincau untuk pembeli
(Foto: Frisca Nur Febrista)
Di salah satu sudut, seorang pedagang es cincau, Bella, sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan. Ia sudah berjualan di Pasar Papringan sejak 2023. “Biasanya paling ramai itu jam 09.00 sampai 10.00 pagi,” ujarnya singkat di sela kesibukan. Segelas es cincau yang ia jual dihargai dua keping bambu atau setara Rp5.000.
Papringan bukan hanya tentang makanan. Di beberapa titik, pengunjung bisa menemukan mainan tradisional berbahan bambu, keranjang dan besek tradisional, hingga barang-barang kecil yang seluruhnya mengusung konsep ramah lingkungan. Bahkan, ada permainan tradisional seperti egrang bisa dicoba langsung, menciptakan nostalgia bagi sebagian pengunjung.
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman ini terasa seperti perjalanan waktu. Pengunjung asal Jakarta, Amalia, mengaku baru pertama kali datang ke Pasar Papringan. Ia datang saat sedang berlibur long weekend di Temanggung bersama keluarganya.
“Unik banget konsepnya, beda aja sama pasar yang biasa saya lihat di Jakarta. Jadi pengen balik lagi,” katanya sambil membawa beberapa jajanan tradisional di tangannya.
Berlokasi di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Pasar Papringan menghidupkan kembali nuansa pasar tradisional di tengah suasana alam kebun bambu. Lebih dari sekadar tempat berjualan, pasar ini menawarkan pengalaman budaya yang hangat, unik, dan berkesan bagi setiap pengunjung yang datang.
