Melek Huruf, Ruang Teduh Untuk Membaca dan Bertukar Cerita di Borobudur

HOTSPOT

Najwa Salsabila Saharani

5/29/20263 min read

Melek Huruf, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang (01/05/2026).

(Raihan Darmawan/Ilmu Komunikasi Untidar)


MAGELANG, Youthverse.id – Di tengah padatnya aktivitas dan kebisingan kota, menemukan suatu ruang hidden untuk benar-benar beristirahat bukanlah hal yang mudah tentunya. Namun, terdapat sebuah sudut pada pemukiman yang tenang di kawasan Borobudur yang hadir dengan mengemas sebuah tempat dengan menawarkan lebih dari sekadar ketenangan.

Namanya Melek Huruf.

Taman baca bersuasana hangat yang menjadi ruang nyaman bagi siapapun yang ingin rehat sejenak menjauh dari hiruk-pikuk keseharian, lewat buku, kopi, dan percakapan.

Melek Huruf ini tersembunyi di tengah pemukiman warga dengan kehadirannya yang membawa suasana asri dan ruang terbuka penuh pepohonan. Tempat ini memberi tawaran pengalaman membaca yang berbeda, jauh dari kesan perpustakaan yang kaku dan formal.

Dipajangnya buku di rak-rak yang tersusun rapi menjadi rumah bagi berbagai cerita dan perspektif. Pengunjung bebas membaca sambil menikmati suasana tenang yang terasa seperti rumah sendiri.

Melek Huruf ini tak hanya menyediakan buku, dihadirkan juga kopi dan minuman lainnya sebagai teman membaca. Dari kombinasi suasana homey, aroma kopi, dan udara sejuk dapat membuat pengunjung betah berlama-lama menghabiskan waktu di sana.

Salah satu pustakawan Melek Huruf, Nina, membagikan kisa bahwa tempat ini dulunya berawal dari mimpi masa kecil salah satu pendirinya, Kristian, yang ingin membuka akses buku secara gratis untuk publik.

“Kristian punya mimpi untuk bisa membuka akses buku-buku dengan gratis untuk publik. Makanya setelah bertahun-tahun kemudian jadilah Melek Huruf ini,” ujarnya.

Melek Huruf sendiri resmi dibuka pada 1 Juni 2023 lalu yang kini dikelola oleh empat pustakawan, yaitu Nina, Kristian, Kara, dan Karuna.

Nama “Melek Huruf” memiliki makna sederhana yang hangat. “Huruf” melambangkan buku-buku yang ada di taman baca, sedangkan “Melek” melambangkan teman membaca seperti kopi atau minuman lainnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, Melek Huruf berkembang menjadi lebih dari sekadar taman baca. Tempat ini perlahan tumbuh sebagai ruang komunitas tempat orang-orang bertukar gagasan dan wawasan, baik lewat buku, film, percakapan, maupun medium lainnya.

“Yang menjadi benang merahnya di sini adalah tempat untuk gagasan dan wawasan bisa bertemu,” tambah Nina.

Konsep ruang terbuka yang diusung Melek Huruf juga bukan tanpa alasan. Sebelum Menetap di Magelang, pemilik Melek Huruf ini sempat tinggal di Jakarta dan merasakan bagaimana ruang terbuka menjadi salah satu hal yang mahal dan sulit ditemukan di sana.

Dengan demikian, saat memutuskan pindah ke Borobudur dan menemukan ruang hijau yang tenang, mereka kemudian berkeinginan menghadirkan pengalaman serupa bagi banyak orang.

“Semoga teman-teman yang ke sini juga bisa merasakan pengalaman yang sama,” katanya.

Menariknya, perkembangan Melek Huruf berjalan jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan. Jika awalnya hanya berharap 5-10 orang yang datang setiap harinya untuk membaca, kini tempat ini justru tumbuh menjadi ruang komunitas dan menjadi “ruang tamu” bagi siapa saja yang datang ke Borobudur.

Tak sedikit pula pengunjung yang datang jauh dari luar kota untuk turut menikmati suasana damai di sana.

Salah satunya yaitu Amalia, pengunjung asal luar kota yang baru pertama kali datang ke Melek Huruf setelah mencari rekomendasi dari sosial media.

Portrait Amalia dan Fathia berkunjung ke Melek Huruf (01/05/2026).

(Raihan Darmawan/Ilmu Komunikasi Untidar)


“Pas datang ke sini, impression-ku tempatnya sejuk banget dan enak banget. Aku langsung kebayang baca buku sambil minum kopi di sini,” ujarnya.

Di sela kesibukan dan rutinitas kerja sehari-hari, Amalia memilih menghabiskan waktunya di Melek Huruf untuk menyelesaikan buku yang sedang dibacanya yang berjudul Bertemu Dewasa karya Farah Qoonita.

Sementara itu, pengunjung lain bernama Fathia mengaku tertarik dengan buku Dear Tomorrow karya Maudy Ayunda yang ia temukan saat pertama kali datang ke sana.

“Buku itu jadi motivasi besar buat aku,” katanya.

Lewat suasana yang tenang dan penuh akan kehangatan, Melek Huruf membuktikan bahwa menikmati waktu tak harus selalu di tempat yang ramai dan mewah.

Kadang, ketenangan justru ditemukan melalui tempat sederhana, di antara halaman buku, aroma kopi dan percakapan kecil yang terasa dekat bagaikan rumah.