36 Balon Udara Warnai Langit Kembaran dalam Festival Balon Udara Wonosobo 2026

Nailah Sekar Abhinaya

3/28/20262 min read

Foto : Dian Pratama Putra

Ratusan pasang mata tertuju ke langit Desa Kembaran, Kabupaten Wonosobo, Rabu (25/3/2026), ketika puluhan balon udara perlahan berdiri dan menghiasi angkasa. Dalam balutan cuaca mendung tanpa matahari pagi, suasana tetap hidup. Warna-warni balon justru menjadi pusat perhatian.

Momen tersebut merupakan bagian dari Festival Mudik Balon Udara Wonosobo 2026, yang diselenggarakan sejak 22 hingga 29 Maret di 23 titik berbeda di Kabupaten Wonosobo, dengan puncak acara di alun-alun kota pada 29 Maret.

Di lokasi ini, sebanyak 36 balon udara dari berbagai peserta ditampilkan secara serentak. Berbeda dengan balon udara pada umumnya, seluruh balon diterbangkan menggunakan sistem tambat, tetap terikat dengan tali guna memastikan keamanan tanpa mengurangi nilai estetika yang ditawarkan.

Ketua panitia, Hasan Fadholi, menyebut persiapan festival tidak dilakukan secara instan. Prosesnya memakan waktu hingga lima bulan, mulai dari menjalin kerja sama dengan sponsor hingga mengoordinasikan komunitas balon udara setempat.

Ia menegaskan, festival ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga upaya menjaga tradisi yang telah mengakar di masyarakat. “ke depannya kita akan memperluas area agar mampu menampung lebih banyak pengunjung dan menambah elemen hiburan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung,” tutur Hasan.

Tradisi menerbangkan balon udara di wilayah Kembaran telah berlangsung selama sekitar 25 tahun, berkembang dari kegiatan sederhana antarwarga menjadi perayaan kolektif yang melibatkan komunitas. Proses pembuatan balon sendiri biasanya dimulai sejak awal Ramadan dan membutuhkan waktu hampir satu bulan hingga siap diterbangkan.

Bagi peserta, festival ini menjadi ruang untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mempertahankan tradisi. Setiap balon dirancang dengan identitas berbeda, mulai dari motif tradisional hingga desain modern yang mencerminkan karakter masing-masing tim.

Sementara itu, antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya area festival sejak pagi hari. Pengunjung asal Purbalingga, Erma dan Angga, rela berangkat sejak subuh demi menyaksikan langsung momen tersebut. Mereka mengaku terkesan dengan keindahan balon-balon yang ditampilkan, meski harus menerima kenyataan bahwa matahari pagi tertutup awan.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh pengunjung asal Pakistan, Muhammad Sharyar Malik. Ia mengaku, festival ini menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan tradisi balon udara, sekaligus menjadi salah satu festival terbaik yang pernah ia kunjungi.

I will returned back In Shaa Allah. Next year, i will join it again because it gives me different feels (In Shaa Allah saya akan kembali lagi. Tahun depan, saya akan datang lagi karena (festival) ini memberikan pengalaman yang berbeda),” ujar mahasiswa Internasional tersebut saat diwawancarai.